Budayawan UGM: Andi Arief Tidak Layak Disebut Korban, Dia Itu Kriminal

Akademisi dan budayawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Bagas Pujilaksono Widyakanigara mengatakan politikus Partai Demokrat Andi Arief tidak layak disebut korban, dia itu kriminal.



Hal tersebut terungkap dalam surat terbuka Bagas ditujukan pada Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri).

Berikut ini isi surat selengkapnya dari Bagas Pujilaksono Widyakanigara untuk Kapolri diterima Tagar News, Kamis (7/3).

Kepada Yth, 
Bapak Kapolri
Kepolisian Republik Indonesia
Jakarta

Hal: Rehabilitasi Narkobais

Dengan hormat,

Sebagai orang awam, saya terkejut dengan keputusan Polri tidak melanjutkan proses hukum saudara Andi Arief dan menyerahkan kasusnya ke Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk direhabilitasi.

Kita sepakat bahwa terorisme, korupsi dan narkoba adalah kejahatan luar biasa extra-ordinary crimes.  Tentunya, tindakannya juga harus ekstra. Bahaya ketiga modus kriminal itu bisa menghancurkan anak bangsa.

Saya bukan ahli hukum. Saya hanya orang biasa yang tekun dan konsisten bekerja di wilayah Ilmu Teknik Nuklir khususnya Metalurgi Nuklir dan Budayawan di Universitas Gadjah Mada. Jadi,  bahasan saya soal rehabilitasi saudara Andi Arief bukan dari aspek hukum, namun dari sisi lain yang bisa dilihat dari pertanyaan-pertanyaan saya ke Polri sebagai berikut:

Saudara Andi Arief adalah makhluk dewasa, berpendidikan tinggi, dan sehat jasmani rohani, tentunya paham membeli narkoba itu melawan hukum negara alias kriminal. Dengan kondisi tersebut, sangat tidak layak jika saudara Andi Arief diposisikan sebagai korban. Korban itu jika saudara Andi Arief di bawah ancaman fisik untuk menghisab sabu. Ini baru istilah korban tepat. Lebih-lebih,  ada upaya membuang alat hisap sabu (bong) ke WC. Apa ini bukan upaya menghilangkan barang bukti, yang tentunya adalah perbuatan kriminal?

Barang bukti! Tidak diketemukannya barang bukti di TKP dijadikan pijakan Polri untuk mengambil keputusan. Apakah narkoba yang telah masuk ke sistem metabolisme tubuh saudara Andi Arief yang bisa dilihat dari hasil tes urine yang positif itu bukan barang bukti?  Apakah alat hisab sabu yang sempat dibuang ke WC itu bukan barang bukti? Ngapain bawa alat hisab sabu ke hotel kalau bukan untuk nyabu? 

Saya dukung langkah Polri bekerja profesional berdasar aturan yang ada, dalam kasus saudara Andi Arief adalah jumlah gram sabu sebagai barang bukti. Jika itu pegangannya, mestinya Polri punya kemampuan forensik mengukur jumlah gram sabu yang sudah masuk ke sistem metabolisme tubuh saudara Andi Arief. Sehingga penegakan hukumnya utuh, bukan hanya berdasar sabu yang tersisa. Demi rasa keadilan!

Dalam banyak hal, saya berseberangan dengan Pak Amien Rais karena manuver-manuver politiknya, walau sama-sama dosen UGM. Namun, saya sependapat dengan pernyataan beliau, bahwa proses penegakan hukum di Indonesia tidak boleh tebang pilih, tentunya berlaku juga untuk kasus saudara Andi Arief.

Saya tidak sedang menuduh Polri bekerja di bawah tekanan politik, namun saya hanya berpendapat untuk kasus saudara Andi Arief, Polri tidak komprehensif melihat potret utuh baik dari sisi interpretasi pasal-pasal hukum kaitannya dengan logika kejadian.

Terimakasih.

Jogjakarta,  2019-03-07

Hormat saya,

(KPH  Bagas Widyakanigara)

SUMBER
loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close

-->