Puji PM Selandia Baru, Fahri Hamzah: di Sini Ada Duka, Pemimpinnya Sibuk Kampanye

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, mengutuk keras aksi penembakan di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood di Kota Christchurch, Selandia Baru.



Sebelumnya, lewat cuitan di Twitter, Fahri Hamzah, menuturkan sangat berduka cita atas tragedi tersebut.

"Sejak kemarin, kita Membersamai luka yang dalam saudara2 kita Muslim #NewZealand yang mengalami pembantaian secara kejam.

Ideologi #Islamophobia berbahaya bagi masa depan ummat manusia. Mari kita hentikan kebencian kepada sesama agar tiada korban selanjutnya," tulis Fahri Hamzah lewat Twitternya.


Adapun pelaku teror di Selandia Baru itu teridentifikasi bernama Brendon Tarrant.

Saat melakukan aksinya, ia sempat menyiarkan melalui media sosial selama 17 menit.

Penembakan massal itu setidaknya menewaskan 49 orang.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern pun lantas bersikap terkait tragedi memilukan itu.

Sehari usai serangan itu, Ardern bersama kelompok multipartai mengunjungi keluarga-keluarga yang berduka dan anggota komunitas Muslim.

Ia yang mengenakan hijab hitam, mendatangi rumah keluarga korban dan memberikan mereka pelukan.

Ardern juga menunjukkan toleransi dan memberikan ketenangan bagi keluarga koban.

Di samping itu, PM Selandia Baru juga berjanji segera membuat undang-undang pengetatan senjata.

Sikap cepat tanggap yang ditunjukkan Ardern ini pun menuai banyak pujian dari publik di berbagai negara.

Salah satunya adalah Fahri Hamzah.

Melalui akun Twitternya, ia terang-terangan memuji langkah responsif Ardern sebagai pemimpin.

"Jacinda Ardern (perdana Menteri Selandia Baru), seorang perempuan muda terpuji.

Ia menarik simpati dan perhatian dunia, terlibat secara emosional dlm duka bangsanya.

Di sini, ada duka, pemimpinnya sibuk kampanye dan peresmian bermotif terselubung. korban bencana dibiarkan saja," tulis Fahri, Selasa (19/3/2019) malam.

Cuitannya itu lantas menuai reaksi beragam warganet.

Sekilas tentang Jacinda Ardern, dikutip TribunSolo.com dari Tribun Pontianak, Jacinda Ardern (38) menjadi perdana menteri termuda dalam 150 tahun terbentuknya Negara Selandia Baru.

Hal itu sekaligus menjadikannya sebagai pemimpin wanita termuda di dunia.

Pada tahun 2008, Jacinda Ardern menjadi kandidat anggota parlemen dari Partai Buruh untuk mewakili distrik Waikato.

Ia kemudian terpilih di usianya yang baru 28 tahun, sekaligus menjadikannya anggota parlemen termuda.

Dalam pidato-pidatonya ia dikenal sebaga pendukung dari kebijakan penggunaan bahasa Maori di sekolah-sekolah Selandia Baru.

Ia juga mengecam respons dan kebijakan pemerintah Selandia Baru terhadap perubahan iklim yang ia nilai sebagai sesuatu yang "memalukan".

Pasca pengunduran Andrew Little sebagai pemimpin Partai Buruh pada 1 Agustus 2017, hanya sebulan sebelum pemilihan umum Selandia Baru dilaksanakan, Jacinda Ardern berhasil terpilih sebagai ketua baru Partai Buruh.

Sebagai pemimpin Partai Buruh yang baru, Ardern berhasil membuat Partai Buruh meraih 36.9% suara pemilih, dimana pada bulan Juli sebelumnya, survey menunjukan Partai Buruh hanya masuk dalam 25% preferensi pemilih.

Setelah lobi-lobi yang cukup alot, Jacinda Ardern akhirnya berhasil memperoleh koalisi untuk mengamankan setidaknya 63 kursi di Parlemen Selandia Baru, sekaligus membuatnya naik menjadi Perdana Menteri ke-40 Selandia Baru.

Seperti pendahulunya Helen Clark, Jacinda Ardern dalam pidato-pidato dan kebijakannya memberi perhatian khusus terhadap seni serta warisan dan kebudayaan Selandia Baru.

Lebih khusus lagi, ia menyatakan akan mengurangi dampak dari kemiskinan terhadap anak-anak.

Arden juga dikenal sebagai sosok yang memberi perhatian khusus pada kebijakan-kebijakan yang terkait lingkungan hidup dan perubahan iklim.

Jacinda Ardern lahir sebagai bungsu dari dua bersaudara di Hamilton, Selandia Baru, pada 26 Juli 1980.

Ayahnya, Ross Ardern, bekerja sebagai polisi, dan ibunya, Laurell Ardern, bekerja sebagai pekerja di kantin sekolah.

Jacinda Ardern tumbuh besar di Murupara, sebuah kota kecil di timur laut Wellington, sebelum akhirnya berpindah ke Morrinsville, Waikato, akibat kenaikan pangkat ayahnya.

Ia kemudian menamatkan pendidikan dasar dan menengahnya di kota ini.

Setelah menamatkan pendidikan menengahnya, Jacinda Ardern mengambil jurusan komunikasi politik di Universitas Waikato pada tahun 1999.

Saat masih kuliah, Ardern dikenal telah aktif di dunia politik.

Ia bergabung dengan Partai Buruh Selandia Baru tak lama setelah menempuh pendidikan tinggi, di usia 17 tahun, pada 1999.

Dengan bantuan bibinya, ia menjadi terlibat dalam kampanye pemilihan Harry Duynhoven sebagai anggota parlemen di distrik New Plymouth.

Setelah meraih gelar sarjana, Ardern bekerja sebagai peneliti kebijakan politik untuk anggota parlemen lain dari partainya.

Pekerjaannya ini membuatnya mendapat posisi sebagai staff dari Perdana Menteri yang menjabat saat itu, Helen Clark, wanita kedua yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Selandia Baru.

SUMBER
loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close

-->